Kamis, 14 April 2011

Ikutan Membahas Sinetron

Sepertinya akhir-akhir ini sinetron Putri Yang Ditukar (PYD) sedang ramai diperbincangkan di ranah dunia maya. Bahkan beberapa blogger tersohor pun turut serta menyemarakkan suasana. Apa pasal? Memangnya sinetron ini begitu baguskah, hingga senantiasa santer diberitakan? Bagus atau nggaknya, itu relatif. Saya pribadi, sih, bakalan bilang sinetron ini nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Yah, kecuali wajah cantik Nikita Willy yang selalu menghiasi layar kaca mungkin bisa dianggap sebagai satu-satunya nilai plus dari sinetron ini. He-he-he.

Awal Mula Kejadian

Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar

Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar

Adalah sebuah fan page di Faceboook, bernama Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar, yang ditengarai menjadi penyebab bergulirnya permasalahan tentang sinetron ini. Fan page yang bernada sarkastik ini mendeskripsikan diri sebagai gerakan koin untuk para artis pemain PYD supaya tidak harus berakting bodoh setiap hari dari jam 19:00 sampai 23:00. Iya, sinetron PYD memang tayang selama itu, dan setiap hari. Pada jadwal siaran RCTI, sih, disebutkan bahwa sinetron PYD tayang pada pukul 19:30 sampai 22:30. Tapi pada kenyataannya seringkali sinetron PYD selesai setelah lewat pukul 22:30, bahkan menjelang pukul 23:00. Bayangkan! Tiga jam lebih nonstop dicekoki sinetron! Beuh….

Ayolah, kita semua tahu kualitas sinetron saat ini. Cerita sinetron penuh dengan intrik asmara cinta segi njelimet, perebutan harta, tipu muslihat, dan percobaan pembunuhan yang tidak pantas disajikan dalam bentuk tontonan pada saat prime time. Bukan itu saja, masih banyak Absurditas di Putri Yang DItukar ini. Mulai dari lokasi yang itu-itu saja, kebetulan yang bertubi-tubi terjadi, hingga pola cerita yang diulang-ulang dan diulur-ulur membuat saya nggak bisa menemukan apa yang dapat dinikmati dari menonton sinetron PYD ini. Kecuali “menikmati” pesona Nikita Willy, tentu saja. Hi-hi-hi.

Sekarang bayangkan semua absurditas tersebut dikalikan tiga episode, untuk kemudian dirapel menjadi tontonan selama tiga jam lebih nonstop, dan tayang selama tujuh hari dalam seminggu. Wow! Makanya nggak heran kalau sampai ada semacam aksi sarkastik sepert gerakan koin itu. Mungkin sang penggagas gerakan juga merasa muak dengan overdosis tayangan PYD. Justru yang bikin saya heran adalah ada yang selalu setia menonton PYD setiap malam, termasuk orang rumah sendiri. Sayang sekali, sih. Tapi masa saya harus memaksa orang rumah untuk berhenti menonton PYD? Apa nantinya nggak dicap sebagai anak yang durhaka? Yah, apa boleh buat. Terkadang saya hanya bisa nyeletuk perihal keabsurdan PYD, dan sepertinya belakangan orang rumah juga setuju. Ya, Tuhan, semoga orang-orang di rumah mendapatkan pencerahan dan dijauhkan dari sinetron PYD. Amin.

Ada yang lebih menggelikan, yakni kelakuan para “pembela” PYD di fan page tersebut. Para pembela ini nggak segan-segan mengata-ngatai dengan kata-kata kasar, menyerang pribadi (shoot the messenger, not the message), bahkan mengaitkan dengan teori konspirasi, lho. Ha-ha-ha. Lha wong cuma sinetron aja kok ya dibelain sampai segitunya, sih? Heran aku. Ck-ck-ck.

Masa Suram

Setelah era sinetron Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan, sinetron seperti terjatuh ke dalam masa yang suram. Praktis mungkin hanya Bajaj Bajuri dan sitkom sejenis yang benar-benar menghibur. Lainnya? Banyak sinetron yang jelas-jelas menjiplak dari serial luar negeri tetapi tidak mencantumkan judul aslinya, seolah-olah itu hasil karya sendiri. Cuih! Makanya sampai ada yang memberikan julukan Setantron™. Kasus terbaru adalah sinetron Supergirl yang tayang di MNCTV. Karakter-karakter yang ada pada sinetron tersebut dituding menjiplak karakter dari komik atau cerita luar negeri, semisal Spider Woman, Robocop, Alice in Wonderland, maupun Pinokio.

Yang masih jadi pertanyaan hingga saat ini, entah mengapa peminat sinetron yang nggak bermutu justru banyak, sehingga sinetron semacam itu terus menerus diproduksi. Mungkin karena pemirsa nggak punya pilihan tontonan lain, ya? Kita lihat saja, selain kebanyakan stasiun TV menayangkan sinetron pada saat prime time, stasiun TV yang lain menayangkan berita. Padahal sebagian besar pemirsa itu menonton TV untuk mendapatkan hiburan, bukannya menonton berita melulu. Sayangnya hiburan yang tersaji hanyalah sinetron, dan—sialnya—dengan pola cerita yang kurang lebih sama nggak bermutunya antara satu sinetron dengan sinetron lainnya. Alhasil akhirnya pemirsa “dipaksa” menonton sinetron, deh.

Industri Sinetron

Eksistensi sinetron ditentukan oleh rating. Kalau ratingnya jeblok, sinetron bisa dengan begitu saja dihabisi. Ingat sinetron Dunia Tanpa Koma? Bahkan aktris sekaliber Dian Sastrowardoyo pun tidak kuasa mendongkrak rating sinetron yang konon katanya bermutu ini, sehingga lenyap tak berbekas setelah hanya tayang sebanyak 13 episode. Tragis, bukan? Bandingkan dengan PYD yang konon katanya menempati peringkat pertama dalam hal rating. PYD kini sudah menembus lebih dari 200 episode, lho.

Ada sebuah kisah menarik dari salah seorang penulis skenario sinetron dan FTV, Alexander Thian. Melalui akun Twitter-nya dia pernah menceritakan pengalaman pribadinya mengenai lika-liku seorang penulis skenario. Berikut ini adalah ceritanya.

Sebagai seorang penulis, gue biasanya harus begadang siang malem, kudu standby kapanpun dibutuhkan. Kira-kira kayak cowok panggilan gitu deh. Nah, proyek yang waktu itu kita garap berame-rame (sekitar bulan Juni yang lalu) kebetulan dinilai berpotensi tinggi. Pemain-pemainnya juga masuk kelas “A” dalam dunia sinetron. So, promosi pun lancar di mana-mana. Otomatis, tekanannya makin tinggi. Kita berusaha “raise the bar” dalam segala aspek. Apalagi, salah satu aktornya sempat komen, “Naskah terbagus yang pernah saya dapat.”

Tapi produser sinetron ini punya pendapat lain. Jam 11 malam Juni lalu, tim penulisnya dikumpulkan. Judulnya sih meeting. Tapi bohong. Cuh. Kita semua dibantai abis. Si produser bilang gini, “Kalian ini bikin sinetron! Bukan film!!” Semuanya bingung. Si produser kembali meracau, “Nggak perlu dialog-dialog yang ketinggian!! Pembantu mana ngerti! Yang saya butuhkan rating! Saya gak butuh dialog bagus! Gak perlu kata-kata bersayap! Gak perlu bahasa simbolis! Gak laku! Dialog yang kalian bikin saya gak ngerti! Ketinggian! Pokoknya saya minta ubah semua! Gak ada yang boleh pulang sebelum skrip baru jadi!”

Intinya sang produser marah karena kualitas skrip yang kita setor…. Terlalu bagus. Kita semua terbengong-bengong di ruang meeting. Salah satu nyeletuk, “Kenapa gak boleh kasih dialog bagus?” Jawabannya, “Soalnya yang nonton pembokat, pembantu, asisten RT, babu!! Dan emak-emak!! Mereka gak ngerti! Saya juga nggak!” Kesimpulan: intelejensi si bos produser setara sama…. Pembantu dong?

Mau debat kayak apapun, dia yang pegang kuasa. Terpaksa, banyak dialog yang harus kita rombak. Super duper bangkelah. Padahal kita mikirin dialog satu baris aja kadang sampe nungging. Demi kualitas. Apa?! Kualitas? Harusnya RATING begok! Jadilah malam itu tim penulis nungging sambil ngerevisi di kantornya produser, gak boleh pulang. Semuanya stress berat.

Cerita juga direvisi habis. Padahal waktu kita kasih sinopsis global, semuanya bilang ini ceritanya bagus. Intinya sih seorang ibu yang kena penyakit jiwa berat, dan memburu anaknya sendiri untuk dibunuh. Udah ada sinetron kayak gini? Nah. Bahkan untuk memerankan Ibu sinting nan psycho ini, satu artis udah dicasting khusus, dan dia sangat excited. Tapi saat cerita akan bergulir ke sana, semua cerita dirombak total. Perannya jadi ibu kaya yang mencari anaknya. Sounds familiar?

Dari satu sinetron ke sinetron lain, kita bisa menarik satu benang merah tentang tema. Anak ketukar, warisan, rebutan pacar, de-el-es-be. Kita selalu diminta membuat cerita yang beda, tapi, ujung-ujungnya akan dibelokkan ke arah yang dimaui produsernya. Terakhir, tokoh utama di sinteron yang kita garap adalah anak yang rebel dan nyebelin. Ujung-ujungnya? Tukang nangis lagi. Padahal kalo dipikirin, sebagai produsen seharusnya produser yang membentuk trend, bukan mengikuti trend. Iya, nggak?

Kenapa produser berkesimpulan yang kebanyakan nonton sinetron itu pembantu? Begini ceritanya. Barometer sinetron sukses bukan dari kualitas akting, cerita, pemeran atau sinematografi atau musik yang menakjubkan. Semua atas nama: rating. Contoh sederhana: pernah nonton Dunia Tanpa Koma? Bagus, kan? Dari segi kualitas, IYA. Segi komersil? Not in a million years. Akan muncul pertanyaan lain: sinetron dulu kok bagus-bagus? Well, dulu tayangnya mingguan, cuy! Sekarang kan every effin day. Go figure.

Sistem rating itu gimana, sih? Nah, rating yang jadi patokan, berasal dari AC Nielsen. Jadi mereka punya peralatan khusus, dan ada jumlah responden yang jadi barometernya juga. Setiap responden dikasih remote khusus. Setiap pencet remote, data terkirim, dan akan ketahuan sedang menonton program apa. Dari data yang masuk, pihak AC Nielsen langsung tau. Si A nonton chanel ini, B nontonnya ini. Data-data tersebut lalu dikompilasi. Dari data-data itu, masuklah yang namanya rating. Dan memang, dari data-data tersebut, penguasa sinetron memang dari kalangan C-D-E.

Apa itu kalangan C-D-E? Secara garis besar, pemirsa TV dibagi ke 5 kelompok. A dan B, adalah kalangan atas hingga menengah atas. C-D-E ya menengah ke bawah. Data dan fakta tersaji. Kami pun gak bisa bantah lagi. Tersaruk-saruklah kami menyayat skenario “kualitas film” sehingga berkualitas “sinetron”. Tak jarang, cerita yang sudah matang, atau sinopsis global harus diubah supaya dewa rating bekerja, dan ratingnya kembali naik. Sekarang pasti pada ngeh, kalo ada cerita yang tiba-tiba berubah, penyebabnya apa. Misal, tabrakan, amnesia dan mulai cerita baru.

Kita, sebagai penulis, pengin banget-banget bikin skrip sekelas Friends, atau Modern Family. Apa daya, uang produser yang berbicara. Lagi-lagi, hukum ekomoni yang berkuasa. Semakin tinggi rating, artinya semakin banyak yang nonton. Artinya iklan akan berhamburan. Makanya, jangan heran Cinta Fitri (CF) sampai ber-season-season. Bahkan season 7 akan diluncurkan segera. Rating CF itu gila, lho. Tinggi banget. Selama rating masih bagus, maka sinetron itu akan terus diproduksi. Tapi kebanyakan orang akan langsung mencaci maki penulisnya. Kalo kita bikin cerita yang keren gila dan gak laku, siapa yang dimarahi? PENULIS!

So, the reality: permintaan pasar yang tinggi akan sinetron, akan berakibat sinetron terus diproduksi. Gak peduli dicaci-dihina-dimaki. Karena yang nonton lebih banyak, yang suka JAUH lebih banyak daripada yang mengutuk. Hukum ekomonilah yang berkuasa. Produser yang menentukan. TAPI, gue percaya kok. Suatu hari nanti akan ada sinetron yang bener-bener mengutamakan kualitas, tanpa memandang profit yang didapat.

Nah, itu tadi kisah pengalaman Alexander Thian, seorang penulis skenario sinetron dan FTV. Kurasa sudah cukup jelas, kan, bagaimana sistem kerja industri sinetron ini? Oh, iya. Masih ada satu lagi, nih, tulisan berjudul Behind the S…inetron yang sedikit banyak mirip dengan cerita di atas. Begitulah, ujung-ujungnya duit. Money talks. Para produser pastilah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena itu, sinetron jenis apa yang “disukai”, itulah yang diproduksi. Peduli amat para pencemooh sinetron bilang apa. Masa bodoh dengan idealisme untuk membuat sinetron yang bermutu seperti serial televisi dari Jepang, Nodame Cantabile, misalnya. Padahal, menurut saya, sesungguhnya production house tidak kekurangan suatu hal apapun untuk menghasilkan sinetron yang bermutu. Namun, sayang mereka hanya memuja rating sinetron semata.

Saya, sih, berharap semoga ada salah satu produser yang terketuk pintu hatinya. Uang yang telah dinikmatinya selama ini bisa dikatakan berasal dari kantong pemirsa juga, kan? Maka dari itu, mbok bikinlah sebuah tontonan yang benar-benar bermutu dan menghibur pemirsa sebagai wujud bakti atau terima kasih kepada pemirsa setia. Saya yakin, kok, para pemirsa pastilah memilih tontonan yang jauh lebih baik dan menghibur apabila memang tontonan semacam itu nyata adanya.

Sebagai penutup, saya lampirkan sebuah komik strip tentang salah satu adegan di sinetron. Semoga lebih menghibur ketimbang nonton sinetron. Hi-hi-hi.

Komik Strip Sinetron | via @lifejoy

via @lifejoy

Nyanyian Cinta Corinne Bailey Rae

Awalnya adalah chatting dengan seorang teman, si penggemar musik-musik Jepang & jazz itu, sekitar dua tahunan lalu. Suatu kali dia cerita sedang nyetel lagu dari Corinne Bailey Rae, penyanyi yang nggak saya tahu. Siapa itu? Saat pertama kali mendownload lagunya, saya hanya berharap bukan musik sebangsa L’arc-en-Ciel :mrgreen:

Lalu saya pun jatuh hati.

Bukan kepada si teman, tapi kepada lagu-lagu Corinne Bailey Rae. :mrgreen: Suaranya merdu mendayu-dayu, musiknya yang ramah di telinga dan lirik yang indah dan sederhana. Setelah mendapatkan musik sealbum pertamanya, langsung saja lagu-lagunya nangkring di playlist. Biasanya jadi teman ketika saya sedang menulis.

Lagu-lagu dari albumnya yang berjudul “The Sea” inilah yang menemani saya dalam perjalanan panjang natal tahun lalu. Biasanya saya suka pada lagu-lagu tanpa merasa perlu cari tahu profil atau kisah pribadi penyanyinya. Namun lamanya perjalanan saat itu “memaksa” saya membaca cerita seputar album dan lagu-lagunya yang tersedia di Majalah yang ada di pesawat waktu itu. Album yang ini keluar setelah dia sempat vakum karena berduka pasca kematian suaminya, Jason Rae. Sebelum itu, Bailey Rae kehilangan kakeknya karena sebuah kecelakaan. Lalu keluarlah album The Sea, dengan lagu-lagunya yang berisi kesedihan, harapan, kehilangan dan cinta.

Dia juga pernah manggung di Indonesia waktu Java Jazz 2011. Sayang, jadwal yang tengah malam membuat saya urung menonton penampilannya. Kapan ya mau datang ke Indonesia lagi, hehe...

Kamis, 07 April 2011

Absurditas di Putri Yang Ditukar

Plesetan posternya

Kebanyakan sinetron adalah pembodohan? I second that.

Anda tentu tahu bahan-bahan utama untuk sinetron Indonesia, yaitu: kecantikan/ketampanan, percintaan yang mustahil, perebutan harta dan sakit/kecelakaan. Campurkan bahan-bahan utama tersebut dengan pertukaran bayi dan alur cerita yang maju mundur, maka didapat sinetron Putri yang Ditukar.

Selamat datang di dunia Putri yang Ditukar. Sebuah dunia di mana kota hanya selebar daun kelor. Tokoh-tokohnya selalu ketemu secara “kebetulan“ di cafe yang sama, sudut taman yang sama dan rumah sakit yang sama. Inilah dunia di mana setiap masalah diselesaikan dengan amarah dan mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu saja. Tokoh-tokohnya tidak pernah tampak bersekolah dan bekerja, mohon jangan bertanya mereka dapat uang dari mana. Saya juga nggak tahu.

Secara umum tidak banyak yang berbeda antara sinetron ini dengan sinetron lainnya. Satu hal yang istimewa adalah frekuensi dan durasi tayang yang luar biasa. Sejak beberapa bulan lalu, sinetron ini muncul di RCTI setiap hari selama 3-4 jam. Padahal ceritanya cuma pengulangan masalah yang itu-itu saja. Bila ada hal yang saya kagumi dari sinetron ini, itu adalah “kreativitas” penulis skenarionya memunculkan tokoh dan konflik baru demi mencegahnya selesai lebih cepat. :mrgreen:

Rasanya lucu kalau ada orang kaya (jadi bos perusahaan mestinya pinter dong ya?) yang dengan mudahnya percaya pada kata-kata musuhnya begitu saja. Di jaman Tes DNA sudah ada, kok ya masih menyandarkan kebenaran pada cap kaki bayi? Cetakan kaki lho, bok.. Setelah segitu seringnya dijahati oleh si ibu tiri, kok nggak terpikir untuk lapor polisi? Kadang tokohnya terlalu asyik bicara sendiri setelah dibohongi, sampai lupa ada HP yang bisa dipakai untuk konfirmasi.

Dengan sekian hal absurd yang tersaji, kenapa masih ada yang menonton sinetron ini? Belum tentu karena jalan ceritanya yang istimewa, atau akting pemainnya yang luar biasa. Ya karena memang tidak ada di sana. Setelah cerita yang ngalor ngidul ngulon ngetan, alur dan karakter yang di luar nalar, penonton penasaran bagaimana masalah mahapenting satu itu akan terjawab: membuktikan bahwa Amira dan Zahira MEMANG ditukar.

Melihat perkembangan yang terjadi, tampaknya Putri yang Ditukar belum akan selesai minggu ini. Sedangkan beberapa orang sudah prihatin dan kasihan pada para artis yang “terpaksa” syuting kejar tayang demi durasi 3 jam setiap hari. Tegakah anda melihat mereka mengulang adegan tangis dan ketakutan karena ancaman pembunuhan yang terus datang dari tokoh-tokoh barunya? Bila tidak, coba simak Gerakan Koin untuk Artis Putri yang Ditukar.

Tapi.. pilihan ‘kan ada di tangan kita, remote control pun bisa ditekan kapanpun juga. Kalau tak suka ya pindah saluran saja, why so serious?

Well, ini adalah pendapat pribadi saya. Sekarang sinetron Indonesia memang baru bisa segitu aja, tapi saya percaya potensi pekerja sinetron Indonesia belum keluar semuanya. Kita hanya perlu percaya dan tak berhenti mendukung mereka. Tonton karyanya dan kritik. Tonton karyanya dan jalan lupa untuk memuji. :)

Rabu, 06 April 2011

Smartphone for (Not So) Smart People?

Awalnya adalah ide untuk membuat segalanya jadi lebih praktis. Gimana caranya agar bermacam hal bisa dikerjakan dengan satu gadget saja? Gimana caranya supaya bisa internetan tanpa harus bawa desktop ke mana-mana? Untuk alasan-alasan inilah sejumlah orang pintar menciptakan smartphone alias telepon pintar.

Smartphone lalu menjadi kebutuhan primer banyak orang. Ada banyak alasan dan tujuan berbeda yang mendorong orang memiliki smartphone. Alasan paling umum adalah supaya bisa ngecek email dan internetan kapanpun. Ada juga yang menggunakannya untuk blogging, memotret dan bermain game.


Nggak dipungkiri, smartphone membuka komunikasi via berbagai saluran. HP pertama saya beberapa tahun lalu cuma bisa dipakai SMS-an dan bertelepon, fungsi-fungsi dasar dari sebuah ponsel. Sekarang? Kita bisa email, Skype-an, instant messenger dan twitter-an hanya dengan sebuah gadget saja. Semakin pintar telepon, semakin mudah kita terhubung dengan orang lain.

Maka lalu jadi aneh kalau smartphone malah membuat penggunanya lebih susah dihubungi. Entah karena ybs lebih suka dihubungi via YM dibanding telepon, atau orang lain yang bikin hal gampang jadi susah. Adanya fitur-fitur canggih di smartphone kan sesungguhnya hanya melengkapi saja & membuatnya lebih powerful tanpa menghilangkan fungsi dasar ponsel: telepon dan SMS. Masa iya bisa LUPA bahwa secanggih apapun, BB bisa dipake buat teleponan..

Thor : Bang **** kok belum datang? Di mana sekarang?
Teman: Nggak tahu, udah gw email, BBM, buzz di YM, Gtalk nggak nyautin
Thor : Oh. Udah telepon?
Teman: Eh iya belum..

Mungkin hanya masalah perubahan kebiasaan, gampangnya akses ke internet membuat saya dan orang-orang di sekitar lebih suka berkomunikasi via saluran internet. Selain lebih murah, kadang memang lebih cepat direspon. Sampai batas-batas tertentu memang efektif dan efisien. Namun ada kalanya kita mesti balik ke komunikasi gaya jadul: SMS atau telepon. Misalnya: butuh ngomong untuk pengambilan keputusan cepat dan kebutuhan untuk diskusi yang intens. Or simply when we need to call someone who doesn’t own any smartphone.


Tapi ada satu alasan yang agak mengenaskan lucu dari seorang pemilik smartphone yang susah dikontak: nggak punya pulsa. Untuk urusan ini, saya no comment.

Teman galak : Lo kenapa sih susah banget dihubungi?
Pemilik smartphone: E sorry tadi BB gw sempet lowbat.
Teman galak : Terus kenapa nggak nelepon gw balik?!
Pemilik smartphone: Eeerr.. gw YM lo sih, nggak ada pulsa.
Teman galak : Apa? Belum beli pulsa juga? You know what, you’re not rich enough to own a BB tau nggak?

Saya keselek.

Selasa, 05 April 2011

Lady Antebellum - Need You Now

ReviewReviewReviewReviewReview

Category:Music
Genre: Country
Artist:LADY ANTEBELLUM
Sori kalo gue terlambat.

Pertama kali mendengar nama band-nya, Lady Antebellum, gue mengira bahwa mereka adalah penerus generasi musik-elektro-bikin-pusing-dengan-dandanan-rame kayak Lady GaGa atau Ke$ha. Bukannya gue nggak suka mereka berdua, tapi its too much. Dua orang itu aja udah bikin dunia cukup rame, tanpa satu tambahan lagi species baru.

Sampai akhirnya gue melihat Grammy Awards (canggih sekali internet itu, nggak hanya bisa download R-Rated Movies, if you know what I mean, kita juga bisa download acara-acara kayak Grammy) dan mendengarkan lagu Need You Now.

Ok.

Jadi, Charles Kelley, Dave Haywood dan Hillary Scott ternyata bukan seorang diva dengan glitter tapi melainkan sebuah band bergenre country.

Dan mari kita dengarkan Need You Know, yang kata salah satu penyiar radio Jakarta, disebut-sebut sebagai “lagu galau internasiona”.

Dibuka dengan dentingan piano yang sangat menghibur, dan mulailah kisah galau ini bergulir. Liriknya nggak ribet dan jujur. Dan pembagian mereka nyanyi oke banget.

Yang bikin keren juga adalah music videonya yang dibikin simple, ngena tapi tetep ada maknanya dan ber-twist. Mampus nggak sih idup lo.

Temen2 gue udah tereak-tereak sama gue karena gue praktis muter lagu ini, ada kali seratus kali. Dan chorusnya “Said I wouldn’t call, but I’ve lost all control, And I need you now” adalah sebuah racun paling mematikan.

Keseluruhan : 10/10

Sabtu, 02 April 2011

G

G stands for, what, G-strings?

Na-ah.

G is for?

GALAU.

Sebenarnya apa itu arti galau?

Yang gw tau, itu vocab baru dalam slang Indonesia yang akhirnya disebut untuk menggambarkan suasana hati yang lagi ga jelas dan gundah gulana sendiri - -

...kayak sekarang.

Galau.

Malem2.

Puyeng.

Klo menurut seorang Gisel, gw adalah manusia dengan mood swings running in my vein (not exactly how she puts it but you get my point).

Dan entah kenapa, belakangan ini mood gw bener2 swinging like in every direction it can possibly go.

Hepi tanpa sebab.
Kesel (klo ini dengan sebab yang jelas).

Dan malam ini gw galau tanpa sebab.

I have a seriously weird suspicion on the 'why' part but I am also in a magnificent denial mode right now so nothing works right in my head right now.

Chatted with Imus and Alex Elf tonight.
missed my dinner.

Every little thing I did to take my mind off it.

But NOTHING WORKS so God help me I need a mental oasis where I can spill the content of my poor brain out before I go crazy.

And no, this is not something I can talk about publicly, but NO, this is nothing dangerous to my already unwell health, unless you count my ill-hearted mind where eeeeeeeverything goes eeeeeverywhere and now I'm writing like a drunk.

Maybe it's a quarter after one, I'm a little drunk and I need you now?

Only Words

Gw adalah manusia yang sering cerita banyak hal ke orang, dari hal yang gitu2 aja kayak 'tadi siang gw makan Indomie pake telor' ampe hal yang ga wajar kayak 'being g** is quite fun maybe'.

Contoh tertulisnya adalah blog ini, FB, dan Twitter.

Dan entah sejak kapan, words effect me much.
Which leads to the fact that I pay quite a lot of attention to what people say that piqued my interest.
These past days, I've been involved in some pretty weird conversations, and like it or not I think I've been obsessed in mentally recording them...

For someone who use the word "I", "me", or "my" as often as I do, it feels weird to obsess about something as nonchalant as words.

(still thinking the connections between 2 phrases in the last line? Go figure)

People I tagged a lot in FB or follow my Twitter should've known about it already, but what the hey.
Relive the fun peeps :)


Lokasi: kelas.

Dosen: "Jakarta suka dijadiin kasus ama luar negeri karena pengaturan kotanya ga bisa dipikirin secara rasional." (-w-)
Gw: "Jadi intinya negara kita irasional." (-A-)

Betul sodara2. Endonesa kita tercinta ternyata emang kasus di mata dunia.



Lokasi: chatbox FB.

Gw: "Nyak, pak uk3 sifatnya ga uk3." (-_-)
Nyak: "Pak uk3 sifatnya s3m3?" (O_o)
Gw: "He's got an inner s3m3 deep deep inside..." (-A-)/

Mungkin pencerahan tiba2 itu dikarenakan gw mergokin dia lagi serius kerja sendiri di kantor.



Lokasi: kantin.

Mahasiswa X: "Dosen yang waktu itu nginjek maket, sekarang bangunannya ada yang rusak."
Mahasiswa Y: "Maket dia diinjek Tuhan."
Gw : "Makanya jangan jahat ama orang, karma itu ada."
Dosen (yang lagi ikut makan di 1 meja): ".........itu maksudnya ditujukan ke saya ya?"

Ampun sujud pak saya ngomong emang ga pernah mikir tapi itu adalah kalimat dengan zero ill intention.

Cya peeps deh :)
go green Indonesia! Arya Spectra

Buat Lencana Anda

Web Page Counter
ecommerce shop designer