thanks to 'Gisel' for boost-ing this mood, hehe...
So, what did I miss since the last post ?
gue ngelewatin uas yang so so...liburan bareng pacar, keranjingan maen PES 2011,haha..
Anyway gue sekarang lagi liburan lho, tapi bukan liburan yang mo dibahas kali ini...
Jadi, ceritanya gue waktu libur kemaren nonton film 'Batas' ama pacar di XXI Ayani Pontianak.
Tadinya gue tertarik nonton karena ada yang ngepost di fb kalo film ini bakalan full shooting di Kalbar. Sebagai orang yang pernah lama tinggal di sana, gue penasaran bakal kaya apa penggambaran Kalimantan dalam film ini. Apalagi ngeliat credit titlenya..makin penasaran pengen nonton..
Setelah nonton,
jadi ceritanya, dalam film ini Jaleswari (Marcella Zalianty), seorang janda yang ditugaskan oleh perusahaan di Jakarta, tempat dimana dia kerja, untuk menyelidiki kinerja program CSR bidang pendidikan di pedalaman Kalimantan yang putus tanpa kejelasan. Meski awalnya ragu mengingat dia tengah berbadan dua, Jales mencoba mengikuti kata hati dan mengambil tanggung jawab yang diberikan.
Saat sampai ditempat tujuan, setelah melalui medan yang berat, Jales bertemu dengan orang-orang yang akan membantunya beradaptasi dan mencari titik terang akar permasalahan yang dihadapi perusahaan. Seperti seorang guru muda bernama Adeus (Marcell Domiuts) dan penjaga pos perbatasan antara Malaysia dan Indonesia bernama Arif (Arifin Putra).
Dari Adeus lah, Jales berkenalan dengan Panglima Adayak (Piet Pagau) dan menumpang tinggal dengan Nawara, istri Panglima, yang memiiki cucu bernama Borneo (Alifyandra). Dirumah Nawara, Jales juga bertemu dengan sosok gadis yang menjadi korban perkosaan di area perbatasan bernama Ubuh (Ardina Rasti). Ubuh sendiri tengah mengalami trauma psikis dan batin akibat kejadian yang menimpanya.
Lalu ada pula sosok Otig (Otig Pakis) dimana tindak tanduknya cukup mencurigakan sebagai tertuduh penyebab segala kejadian yang telah membawa Jales sampai harus berjuang sendiri masuk ke pedalaman. Dimana pola hidup masyarakatnya masih berpegang teguh pada adat istiadat setempat. Sanggupkah Jales bertahan dan menyelesaikan tugasnya?
Film yang naskahnya ditulis oleh Slamet Rahardjo berdasar ide dari Marcella Zalianty, pemain sekaligus produser filmnya ini, disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Heaven yeah, ini merupakan comeback dari Rudi pasca hiatus setelah menyutradarai film Hantu Rumah Ampera yang rilis tahun 2009 lalu. Dan setelah melihat hasil akhir filmnya, gue cukup terpesona dengan apa yang ditawarkan Rudi kali ini. Bukan film yang memakai sistem syuting 7 hari, tapi film yang dibuat dengan matang meski gue masih bingung sama karakter sutradara satu ini yang selalu berubah-ubah. Gue angkat jempol buat sinematografinya yang bagus banget. Rudi dalam film ini bisa ngegambarin alam Kalimantan terutama perbatasan dengan proporsional, jujur, tapi tetep indah. Pokoknya ga ada warna yang terlalu mencolok, semuanya sejuk di mata.
Dari segi departemen akting gue beri standing applause untuk kalian semua, bintang-bintang tua dan muda bersatu, saling menyajikan akting terbaiknya masing-masing karena terlihat dari penjiwaanya karakternya yang kuat banget. Terutama Rasti yang sukses membuat gue makin ngefans sama nih cewek setelah tergila-gila dengan akting bitchy dia di film Virgin. Yang paling dapet mood nya di sini kayaknya dia deh.
Sayangnya, hal-hal baik di atas mesti diganggu dengan penceritaan film Batas yang terbilang lambat, terlalu lambat malah. Ampe ga kebaca benang merah ini film mau dibawa kemana. Bahkan disaat-saat tertentu melemah dan tak tahu akan mengarah kemana. Ritme naik turun nggak jelas. Seperti kebingungan karakter Jales dalam mencari sumber masalah, disitu juga gue ikut kebingungan untuk menempatkan diri dan menikmati filmnya. Saat seharusnya pace film enak untuk diikuti, cerita malah berubah datar hingga kemudian kembali naik disaat gue sudah terlalu lelah menanti scene yang juntrungannya berakhir anti klimaks. Jadi jangan salahkan kalo akhirnya gue ngantuk :)
Gangguan kedua terjadi dengan penggunaan handheld yang membuat gue pusing setengah mati karena terlihat terlalu kasar. Mungkin karena medan saat syuting terlihat begitu berat. Jadi gue maklum jika akhirnya mesti diminimalisir dengan penggunaan kamera ini. Untuk scene yang pake handheld kamera, gue sepakat sama pacar kalo bagian ini ga smooth..kalo nonton filmnya sambil mumet bisa pusing setengah mati.
Dan guepun bertanya-tanya tentang arti judul Batas. Awalnya gue mengira ceritanya hanya berpusat tentang konflik dua belah pihak antara Indonesia dan Malaysia, yang mana memang sempat disinggung namun tak ubahnya hanya sekedar tempelan. Ternyata Batas disini memiliki arti yang lebih universal. Yang mungkin akan kalian temui di kehidupan nyata. Tentang batas tanggang rasa, batas memiliki kemerdekaan dan batas-batas lain yang harusnya dimengerti dan digunakan sebagaimana mestinya. Sayangnya, benang merah dalam film ini ga disambungkan dengan baik. Beberapa joke juga terlalu datar sampe bikin kita cuman senyum dikit pas nonton. Kelemahan yang paling parah adalah di dialog. Banyak banget dialog film ini yang kesannya pengen dibuat menjadi dialog pintar yang panjang-panjang gitu..tapi jatohnya malah jadi dialog panjang nan membosankan yang buat gue terlalu lebay di beberapa bagian, hehe.. Jangan bandingkan ama dialog The Social Network deh...
At least, meski masih memiliki beberapa kekurangan, Batas tetaplah film Indonesia yang layak tonton dan perlu diapresiasi. Dan kalian harusnya bangga memiliki film 'berani mati' seperti ini. Bukan film yang muncul demi mengeruk keuntungan seperti yang sudah berkali-kali muncul di bioskop akhir-akhir ini.
rating 5.5/10





Tidak ada komentar:
Posting Komentar