Senin, 20 Juni 2011

Review : Batas

Finally, get my mood to make a post again...
thanks to 'Gisel' for boost-ing this mood, hehe...

So, what did I miss since the last post ?
gue ngelewatin uas yang so so...liburan bareng pacar, keranjingan maen PES 2011,haha..
Anyway gue sekarang lagi liburan lho, tapi bukan liburan yang mo dibahas kali ini...
Jadi, ceritanya gue waktu libur kemaren nonton film 'Batas' ama pacar di XXI Ayani Pontianak.
Tadinya gue tertarik nonton karena ada yang ngepost di fb kalo film ini bakalan full shooting di Kalbar. Sebagai orang yang pernah lama tinggal di sana, gue penasaran bakal kaya apa penggambaran Kalimantan dalam film ini. Apalagi ngeliat credit titlenya..makin penasaran pengen nonton..

Setelah nonton,


jadi ceritanya, dalam film ini Jaleswari (Marcella Zalianty), seorang janda yang ditugaskan oleh perusahaan di Jakarta, tempat dimana dia kerja, untuk menyelidiki kinerja program CSR bidang pendidikan di pedalaman Kalimantan yang putus tanpa kejelasan. Meski awalnya ragu mengingat dia tengah berbadan dua, Jales mencoba mengikuti kata hati dan mengambil tanggung jawab yang diberikan.

Saat sampai ditempat tujuan, setelah melalui medan yang berat, Jales bertemu dengan orang-orang yang akan membantunya beradaptasi dan mencari titik terang akar permasalahan yang dihadapi perusahaan. Seperti seorang guru muda bernama Adeus (Marcell Domiuts) dan penjaga pos perbatasan antara Malaysia dan Indonesia bernama Arif (Arifin Putra).

Dari Adeus lah, Jales berkenalan dengan Panglima Adayak (Piet Pagau) dan menumpang tinggal dengan Nawara, istri Panglima, yang memiiki cucu bernama Borneo (Alifyandra). Dirumah Nawara, Jales juga bertemu dengan sosok gadis yang menjadi korban perkosaan di area perbatasan bernama Ubuh (Ardina Rasti). Ubuh sendiri tengah mengalami trauma psikis dan batin akibat kejadian yang menimpanya.

Lalu ada pula sosok Otig (Otig Pakis) dimana tindak tanduknya cukup mencurigakan sebagai tertuduh penyebab segala kejadian yang telah membawa Jales sampai harus berjuang sendiri masuk ke pedalaman. Dimana pola hidup masyarakatnya masih berpegang teguh pada adat istiadat setempat. Sanggupkah Jales bertahan dan menyelesaikan tugasnya?


Film yang naskahnya ditulis oleh Slamet Rahardjo berdasar ide dari Marcella Zalianty, pemain sekaligus produser filmnya ini, disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Heaven yeah, ini merupakan comeback dari Rudi pasca hiatus setelah menyutradarai film Hantu Rumah Ampera yang rilis tahun 2009 lalu. Dan setelah melihat hasil akhir filmnya, gue cukup terpesona dengan apa yang ditawarkan Rudi kali ini. Bukan film yang memakai sistem syuting 7 hari, tapi film yang dibuat dengan matang meski gue masih bingung sama karakter sutradara satu ini yang selalu berubah-ubah. Gue angkat jempol buat sinematografinya yang bagus banget. Rudi dalam film ini bisa ngegambarin alam Kalimantan terutama perbatasan dengan proporsional, jujur, tapi tetep indah. Pokoknya ga ada warna yang terlalu mencolok, semuanya sejuk di mata.

Dari segi departemen akting gue beri standing applause untuk kalian semua, bintang-bintang tua dan muda bersatu, saling menyajikan akting terbaiknya masing-masing karena terlihat dari penjiwaanya karakternya yang kuat banget. Terutama Rasti yang sukses membuat gue makin ngefans sama nih cewek setelah tergila-gila dengan akting bitchy dia di film Virgin. Yang paling dapet mood nya di sini kayaknya dia deh.

Sayangnya, hal-hal baik di atas mesti diganggu dengan penceritaan film Batas yang terbilang lambat, terlalu lambat malah. Ampe ga kebaca benang merah ini film mau dibawa kemana. Bahkan disaat-saat tertentu melemah dan tak tahu akan mengarah kemana. Ritme naik turun nggak jelas. Seperti kebingungan karakter Jales dalam mencari sumber masalah, disitu juga gue ikut kebingungan untuk menempatkan diri dan menikmati filmnya. Saat seharusnya pace film enak untuk diikuti, cerita malah berubah datar hingga kemudian kembali naik disaat gue sudah terlalu lelah menanti scene yang juntrungannya berakhir anti klimaks. Jadi jangan salahkan kalo akhirnya gue ngantuk :)

Gangguan kedua terjadi dengan penggunaan handheld yang membuat gue pusing setengah mati karena terlihat terlalu kasar. Mungkin karena medan saat syuting terlihat begitu berat. Jadi gue maklum jika akhirnya mesti diminimalisir dengan penggunaan kamera ini. Untuk scene yang pake handheld kamera, gue sepakat sama pacar kalo bagian ini ga smooth..kalo nonton filmnya sambil mumet bisa pusing setengah mati.

Dan guepun bertanya-tanya tentang arti judul Batas. Awalnya gue mengira ceritanya hanya berpusat tentang konflik dua belah pihak antara Indonesia dan Malaysia, yang mana memang sempat disinggung namun tak ubahnya hanya sekedar tempelan. Ternyata Batas disini memiliki arti yang lebih universal. Yang mungkin akan kalian temui di kehidupan nyata. Tentang batas tanggang rasa, batas memiliki kemerdekaan dan batas-batas lain yang harusnya dimengerti dan digunakan sebagaimana mestinya. Sayangnya, benang merah dalam film ini ga disambungkan dengan baik. Beberapa joke juga terlalu datar sampe bikin kita cuman senyum dikit pas nonton. Kelemahan yang paling parah adalah di dialog. Banyak banget dialog film ini yang kesannya pengen dibuat menjadi dialog pintar yang panjang-panjang gitu..tapi jatohnya malah jadi dialog panjang nan membosankan yang buat gue terlalu lebay di beberapa bagian, hehe.. Jangan bandingkan ama dialog The Social Network deh...

At least, meski masih memiliki beberapa kekurangan, Batas tetaplah film Indonesia yang layak tonton dan perlu diapresiasi. Dan kalian harusnya bangga memiliki film 'berani mati' seperti ini. Bukan film yang muncul demi mengeruk keuntungan seperti yang sudah berkali-kali muncul di bioskop akhir-akhir ini.

rating 5.5/10

http://www.smileycodes.info


Rabu, 11 Mei 2011

Sondre Lerche....and his "Exotic Modern Jazz"

Sedikit terlambat untuk me-review album ini.

"Membuat musik harus serius tetapi isinya tidak harus serius..."

Begitulah kesan pertama saya ketika mendengar lagu-lagu penyanyi satu ini.

Berawal dari Java jazz, festival musik jazz berkelas internasional digelar maret 2011 kemarin. Saya sudah siap nonton festival ini, tiket sudah diorder..apa daya gagal di menit-menit terakhir,ceile..hiks...Waktu itu pengen banget nonton Fourplay padahal..akhirnya sebagai balas dendam saya review artis-artis jazz yang ngisi line up Java Jazz kemarin aja deh,hehe...

Salah satu artis yang membuat saya tertarik adalah sondre lerche yang sangat terkenal (katanya). Merasa kuper karena ga kenal sama sekali,hehe...jadilah beberapa hari yang lalu saya download semua lagunya dan surprise...It's totally AWESOME!!!


Lagu pertama yang masuk playlist di laptop adalah "two way monologue"...1 menit pertama mendengarkan lagu ini seperti mendengar musik 'Nat King Cole' atau 'Quincy Jones' dengan sedikit taste Norah Jones,hehe...saya sudah was-was bakal sama seperti musisi-musisi itu...

Ternyata....sisa lagunya benar-benar bikin surprise, masih ada warna jazz dengan sentuhan brit pop yang kental...lagunya riang tapi terasa jujur dan dalem,hehe....man, he's creative,haha....dengerin lagu ini waktu lagi sendiri benar-benar bikin pikiran berkhayal dengan imajinasi tinggi...(duile...), bagus banget....ini "eksotik" modern jazz yang saya harapkan selama ini,hahaha...



Next, biar saya kenalin Sondre Lerche nya...

Sondre Lerche, lahir di Bergen, Norwegia. Penyanyi solo bergitar ini mulai belajar gitar pada usia 8 tahun, dan mulai rekaman saat masih umur 16 tahun.


Album pertamanya ( faces down) yang beraliran eksperimentalis, seluruh lagunya ditulis oleh lerche sendiri. Bagi saya, cukup bagus untuk usianya yang masih sangat muda. Mendapat nilai 7.4/10 oleh pitchfork media. Lagu yang paling enak di album ini: modern nature (duet dengan Lilian Samdall) muncul di film Dan in real life saat wedding scene.





Album keduanya adalah two way monologue. Album inilah yang membuat saya menyukai musik lerche. single yang sesuai dengan nama albumnya adalah yang paling saya suka "two way monologue". Album ini masih dengan nuansa gitar akustik yang cukup kental, dengan khas suara lerche bernuansa jazz 50 - 60an serasa menyatu dengan musiknya dan membawa nuansa musik yang unik. Lagu2 yang asik di album ini: two way monologue, track you down, on the tower, it's over, stupid memory (IMO). Nilai dari pitchfork media untuk album ini: 7.8/10.



Album ketiganya, dupper session adalah eksperimen Lerche dengan musik jazz. Mungkin dengan karakter vokalnya, sebetulnya pas dengan musik jazz, tapi entahlah saya tidak terlalu suka dengan album ini. Sangat jauh sepertinya jika dibandingkan dengan jamie cullum, tapi patut diapresiasi untuk usahanya dengan munculnya album ini. Kebetulan juga penilaian pitchfork media tidak terlalu bagus: 6.1/10




Album ke-empatnya, Phantom punch kebetulan saya belum download full album, tapi yang lagunya tragic mirrors lumayan. Lerche balik lagi ke aliran indie pop nya dengan gitar akustiknya. Pitchfork media: 6.6/10.









Setelah album ke-4, Lerche didapuk untuk scoring music di film Dan in real life. Ada beberapa lagu yang diambil dari album2 sebelumnya seperti modern nature. yang paling mantap di album ini adalah single duetnya dengan regina spektor yang berjudul "hell no". Dan di lagu hell no inilah suara lerche sangat pas dengan musiknya yang jazzy. regina spektor juga tidak kalah pas dengan musiknya. perfect blend. saya berharap akan muncul lagu-lagu seperti hell no di album-album lerche selanjutnya.






Album terbaru dari lerche yaitu heartbeat radio kembali dengan aliran indie pop dengan pop orchestra dan akustik gitar. Tidak terlalu nge-hit dan sepertinya lerche lebih suka dengan semangat indie-nya untuk memainkan musik yang dia suka tanpa embel-embel akan diterima masyarakat luas atau enggak. nice but not special album. pitchfork media: 6.1



Sondre pernah mendapat banyak kritik tajam mengenai lirik yang ia tulis, namun bisa jadi kesederhanaan lirik itu menjadikan lagunya lebih jujur. Atau bisa jadi karena keterbatasan bahasa inggris. Tapi dengan lirik yang apa adanya malah tampak jujur, seperti pada lagu words and music dan i guess its gonna rain today.

Khusus untuk album terbarunya, secara keseluruhan album ini merupakan pencampuran album-album sondre sebelumnya, ada baroque pop ala two way monologue, ada rock ala phantom punch, indiepop ala the faces down, sampai swing ala duper session.


Tips :

Mendengar lagu-lagunya Sondre Lerche sebaiknya dengan menggunakan headphone stereo yang bagus karena semua panning-panning di lagunya akan terdengar megah dan menjadi bermanfaat dibanding kalau harus didengarkan dengan speaker PC murahan,hehe....

Dengar kualitas mixing standar namun menarik dengan banyak twist dari CD aslinya, sangat direkomendasikan buat beli CD nya kalo mau denger kualitas optimal musiknya karena hasil download biasanya punya hasil kompresi kurang optimal,hehe.....

"when we fight is rock and roll, when we make it up its soul..."


So...Selamat mendengarkan modern jazz ala Sondre Lerche.......

Minggu, 08 Mei 2011

Sudahkah Kamu Mendengarkan Adhitia Sofyan ?

pretty


Saya tidak sengaja berpapasan dengan Adhitia Sofyan karena iseng masuk ke sebuah situs net label lewat link yang ditaruh di multiply teman saya beberapa tahun lalu dan menemukan namanya disana. Saat itu, saya cuma iseng memilih album Quite Down milik dia untuk didownload dan didengarkan. Dia terdengar sangat biasa. Musiknya biasa, liriknya juga biasa. Tapi justru disitu kelebihan dia.


Kesederhanaannya membuat saya langsung memasukkan lagu dia ke dalam playlist saya untuk siap sewaktu-waktu didengarkan sehabis mendengarkan lagu-lagu jazz atau swing atau dalam keadaan yang membutuhkan sesuatu untuk menenangkan hati. Lagu-lagunya dia, dari track satu sampai track sebelas, tidak membutuhkan usaha keras untuk diterima tapi karena membuat nyaman, susah untuk tidak dikangeni.

Quiet Down sendiri sebetulnya sudah beredar cukup lama. Saya mendownload album itu sekitar dua tahun yang lalu, kemudian dilanjutkan dengan Forget Your Plans. Disela-selanya saya kemudian baru tahu kalau dia sudah punya penggemarnya sendiri. Saya baru tahu kalau sebagai "musician bedroom" atau "musisi kamar" ternyata Adhitia Sofyan sudah menyentuh telinga dan disukai banyak orang. Mungkin alasan itu juga yang membuat CD fisiknya kemudian dibuat.

Kemarin saya menemukan review album Quiet Down dari Jepang, ya, album ini memang sudah dipasarkan resmi di Jepang oleh label indipenden di sana yang bernama Production Dessinee.

Demikian terjemahannya :

“Adhitia Sofyan Quiet Down Japanese Review Translation Musik, Wine & Fromage”

Kalau kita bayangkan musisi seperti apa sih yg ada di Indonesia? Mungkin yg terbesit dipikiran anda musisi world music dengan gaya orientalis. yg terbesit dalam pikiran saya adalah negara penghasil kopi manderin & kopi luak, kopi langka yg diambil dari kumpulan kotoran luak tapi Album [Quiet Down] Adhitia Sofyan ini menghapus prasangka saya kalau album ini album lagu daerah bertemakan kopi luak. kata Borderless menjadi tidak asing lagi bagi saya, sudah lama sekali saya tidak pernah menyimak album akustik yg senikmat ini. Saya telah berprasangka buruk terhadap Indonesia. Saya tidak mengenal Adhitia Sofyan secara detil, tapi saya pernah dengar bahwa album [Quiet Down] ini direkam di kamarnya, memadukan gitar dan nyanyian, menghasilkan ambience yg merilekskan, hangat menenangkan persis seperti matahari, apalagi bila didengarkan oleh orang sakit yg sedang beristirahat di atas tempat tidur rumah sakit. bed room music!

Paragraf ke-2 ini saya tulis setelah mendengarkan baik-baik album ini dan membaca review saya sebelumnya, kehebatan album ini tidak berubah, hanya saja saya sekarang telah mengetahui proses pembuatan album ini, dan kesan & cinta terhadap album ini semakin bertambah. justru karena zaman sekarang yg seperti ini, saya ingin menghargai hal-hal seperti itu.


Sisa bagian tulisan ini mungkin terdengar klise dan sangat promosional, tapi memang ini tulisannya dimaksudkan untuk begitu. Saya memang mau bilang kalau duapuluh lima ribu rupiah tidaklah mahal untuk menghargai Adhitia Sofyan. Apalagi karena sudah sekian lama kita menikmati apa yang dia buat secara gratis. Saya, sudah punya satu. Kalian ?

Senin, 02 Mei 2011

Review : I Am Number Four

Going back after hiatus for few weeks,hehe...

i am number four one sheet

Seen on: February 18, 2011

The players: Director: D.J. Caruso, Writers: Miles Millar, Alfred Gough, Cast: Alex Pettyfer, Timothy Olyphant, Teresa Palmer, Dianna Agron

Facts of interest: Produced by Michael Bay.


Imagine the cast of Beverly Hills 90210 being dropped into Xavier's School for Gifted Youngsters from the X-Men movies and you'll have a sense of the uneven pastiche that is I Am Number Four.

The film starts out with an exciting action scene where we see creepy aliens chase and kill Number Two in a lush jungle. After being outed as "some kind of freak", we cut to teen John Smith (Alex Pettyfer) and his guardian Henri (Timothy Olyphant) throwing their belongings into their car and burning photographs and anything else that connects them to the Florida community. "This is the part I hate the most. The running." John explains in a lengthy voiceover, as they head to the tiny town of Paradise, Ohio where they just happen to have a long-vacant house on the edge of town.

Then the backstory really gets confusing. John is one of nine alien kids from planet Lorien who have special "legacies" that make them extraordinarily powerful. Henri is a warrior assigned to guard John. The bad guys are also aliens, the Mogadorians, or "The Mogs", and after invading Lorien they're tracking down The Nine to kill them, apparently in preparation for invading Earth. How those two tie together? I've no clue.

The real problem with I Am Number Four, however, is pacing. After an exciting first ten minutes, the film settles into a cliche-laiden teen school soap opera, including John, the lone outsider, the bullied science nerd Sam (Callan McAuliffe), the jock bully Mark (Jake Abel) and his posse, and super cute Sarah (Dianna Agron), who falls for John which -- surprise! -- angers ex-bf Mark. Yadda yadda, you've seen all these trite interchanges a thousand times before on the big screen. After an hour or so of High School Drama, the Mogs finally show up, along with the sexy Number Six (Teresa Palmer), and the action finally resumes.

I Am Number Four wasn't a bad film, and it's certainly entertaining, but the pacing was awful. If you're a teen who digs action films, this might be a wonderful movie for you -- and the cast are all pleasant to watch, men and women alike -- but if you're used to more sophisticated action fare where the backstory is skillfully woven into ongoing action and adventure, you'll be yearning for something better.

This is a film that can almost serve as a new edition of the DVD-based game Scene It? where you have to identify the sources of scenes, sets and dialog. The opening was clearly inspired by the recent film Predators, I recognized a number of ideas inspired by the perpetual running story of the TV series Terminator: The Sarah Connor Chronicles, and there was also a generous dose of Twilight, both in the story and specific scenes in the film. By itself, inspiration isn't a bad thing, but it's up to the scriptwriters and director to turn those scenes and ideas into a coherent film.

There are some inspired ideas in I Am Number Four, including the chimera that turns out to be a second guardian for Number Four, shape-shifting in interesting, if predictable ways. Each legacy alien also has spiral-shaped tattoos that connect them with the other eight, and when one dies, the mark burns. An interesting idea that made me imagine a story where a boy has these marks but thinks they're birthmarks. Why does one burn? Why does another? He slowly unravels that he's an alien and that he's connected to others through those markings on his skin. But that's too subtle for this film.
i_am_number_four_publicity still
Sarah (Dianna Agron) and John (Alex Pettyfer) from "I Am Number Four"

Lifting an idea from the film Prince of Persia, we learn that the best way to kill Mogs is with a wicked scimitar with a glowing blue handle. In fact, the blue glow is some sort of crystal that also shows up as rocks with special, though unspecified, properties. Scimitars work, but a shotgun will put a Mogadorian down for the count too, if necessary.

Then there's the issue of the ornate metal box covered in alien script that Henri has been saving for John to open when he's old enough. It's a memento from his father back on Lorien and it appears time and again - including during the completely nonsensical last scene - but John never opens it. What's the point of a treasure box that's never opened? Maybe in the director's cut we'll learn the secret.

As is typical with this type of film, there's a never-ending stream of improbable coincidences. John and Henri arrive at Paradise, OH and have a house that they're already familiar with. John befriends Sam just to find out that Sam's dad was abducted by aliens. Sarah posts photos of John on her Web site and as he's looking at them they're mysteriously removed. We see glimpses of Number Six throughout the film, but she doesn't show up until the battle with the Mogs ensues. Good timing, that!

There are a few violent scenes that younger viewers may find upsetting, even with the film's PG-13 rating. Gore doesn't splatter on screen (a welcome relief) but there's a scene where a UFO conspiracy Web nerd is killed by the Mogs that's definitely disturbing, and another where a school janitor vanishes and we see his floor waxer leaving a wide red swath across the floor, presumably of blood.

If you like films about teens trying to fit in to the pecking order of a small town school, interwoven with an alien conspiracy story highlighted by entertaining action sequences, films that feature an all-beautiful cast, then you might get quite a kick out of I Am Number Four. It's certainly a good "date night" film for high school kids. But, ultimately, not much more than that, though it clearly ended with sequels in mind.

The final word: Although it boasts quite an interesting concept, D.J. Caruso’s new sci-fi thriller “I Am Number Four” takes way too long to lift off and impress viewers with a couple of fast-paced action scenes and an explosion of solid special effects. In the end, the film feels more like a mix of “Twilight” and “Smallville,” and no, that’s definitely not a good sign. Did I also mention it was produced by Michael Bay?

Kamis, 14 April 2011

Ikutan Membahas Sinetron

Sepertinya akhir-akhir ini sinetron Putri Yang Ditukar (PYD) sedang ramai diperbincangkan di ranah dunia maya. Bahkan beberapa blogger tersohor pun turut serta menyemarakkan suasana. Apa pasal? Memangnya sinetron ini begitu baguskah, hingga senantiasa santer diberitakan? Bagus atau nggaknya, itu relatif. Saya pribadi, sih, bakalan bilang sinetron ini nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Yah, kecuali wajah cantik Nikita Willy yang selalu menghiasi layar kaca mungkin bisa dianggap sebagai satu-satunya nilai plus dari sinetron ini. He-he-he.

Awal Mula Kejadian

Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar

Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar

Adalah sebuah fan page di Faceboook, bernama Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar, yang ditengarai menjadi penyebab bergulirnya permasalahan tentang sinetron ini. Fan page yang bernada sarkastik ini mendeskripsikan diri sebagai gerakan koin untuk para artis pemain PYD supaya tidak harus berakting bodoh setiap hari dari jam 19:00 sampai 23:00. Iya, sinetron PYD memang tayang selama itu, dan setiap hari. Pada jadwal siaran RCTI, sih, disebutkan bahwa sinetron PYD tayang pada pukul 19:30 sampai 22:30. Tapi pada kenyataannya seringkali sinetron PYD selesai setelah lewat pukul 22:30, bahkan menjelang pukul 23:00. Bayangkan! Tiga jam lebih nonstop dicekoki sinetron! Beuh….

Ayolah, kita semua tahu kualitas sinetron saat ini. Cerita sinetron penuh dengan intrik asmara cinta segi njelimet, perebutan harta, tipu muslihat, dan percobaan pembunuhan yang tidak pantas disajikan dalam bentuk tontonan pada saat prime time. Bukan itu saja, masih banyak Absurditas di Putri Yang DItukar ini. Mulai dari lokasi yang itu-itu saja, kebetulan yang bertubi-tubi terjadi, hingga pola cerita yang diulang-ulang dan diulur-ulur membuat saya nggak bisa menemukan apa yang dapat dinikmati dari menonton sinetron PYD ini. Kecuali “menikmati” pesona Nikita Willy, tentu saja. Hi-hi-hi.

Sekarang bayangkan semua absurditas tersebut dikalikan tiga episode, untuk kemudian dirapel menjadi tontonan selama tiga jam lebih nonstop, dan tayang selama tujuh hari dalam seminggu. Wow! Makanya nggak heran kalau sampai ada semacam aksi sarkastik sepert gerakan koin itu. Mungkin sang penggagas gerakan juga merasa muak dengan overdosis tayangan PYD. Justru yang bikin saya heran adalah ada yang selalu setia menonton PYD setiap malam, termasuk orang rumah sendiri. Sayang sekali, sih. Tapi masa saya harus memaksa orang rumah untuk berhenti menonton PYD? Apa nantinya nggak dicap sebagai anak yang durhaka? Yah, apa boleh buat. Terkadang saya hanya bisa nyeletuk perihal keabsurdan PYD, dan sepertinya belakangan orang rumah juga setuju. Ya, Tuhan, semoga orang-orang di rumah mendapatkan pencerahan dan dijauhkan dari sinetron PYD. Amin.

Ada yang lebih menggelikan, yakni kelakuan para “pembela” PYD di fan page tersebut. Para pembela ini nggak segan-segan mengata-ngatai dengan kata-kata kasar, menyerang pribadi (shoot the messenger, not the message), bahkan mengaitkan dengan teori konspirasi, lho. Ha-ha-ha. Lha wong cuma sinetron aja kok ya dibelain sampai segitunya, sih? Heran aku. Ck-ck-ck.

Masa Suram

Setelah era sinetron Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan, sinetron seperti terjatuh ke dalam masa yang suram. Praktis mungkin hanya Bajaj Bajuri dan sitkom sejenis yang benar-benar menghibur. Lainnya? Banyak sinetron yang jelas-jelas menjiplak dari serial luar negeri tetapi tidak mencantumkan judul aslinya, seolah-olah itu hasil karya sendiri. Cuih! Makanya sampai ada yang memberikan julukan Setantron™. Kasus terbaru adalah sinetron Supergirl yang tayang di MNCTV. Karakter-karakter yang ada pada sinetron tersebut dituding menjiplak karakter dari komik atau cerita luar negeri, semisal Spider Woman, Robocop, Alice in Wonderland, maupun Pinokio.

Yang masih jadi pertanyaan hingga saat ini, entah mengapa peminat sinetron yang nggak bermutu justru banyak, sehingga sinetron semacam itu terus menerus diproduksi. Mungkin karena pemirsa nggak punya pilihan tontonan lain, ya? Kita lihat saja, selain kebanyakan stasiun TV menayangkan sinetron pada saat prime time, stasiun TV yang lain menayangkan berita. Padahal sebagian besar pemirsa itu menonton TV untuk mendapatkan hiburan, bukannya menonton berita melulu. Sayangnya hiburan yang tersaji hanyalah sinetron, dan—sialnya—dengan pola cerita yang kurang lebih sama nggak bermutunya antara satu sinetron dengan sinetron lainnya. Alhasil akhirnya pemirsa “dipaksa” menonton sinetron, deh.

Industri Sinetron

Eksistensi sinetron ditentukan oleh rating. Kalau ratingnya jeblok, sinetron bisa dengan begitu saja dihabisi. Ingat sinetron Dunia Tanpa Koma? Bahkan aktris sekaliber Dian Sastrowardoyo pun tidak kuasa mendongkrak rating sinetron yang konon katanya bermutu ini, sehingga lenyap tak berbekas setelah hanya tayang sebanyak 13 episode. Tragis, bukan? Bandingkan dengan PYD yang konon katanya menempati peringkat pertama dalam hal rating. PYD kini sudah menembus lebih dari 200 episode, lho.

Ada sebuah kisah menarik dari salah seorang penulis skenario sinetron dan FTV, Alexander Thian. Melalui akun Twitter-nya dia pernah menceritakan pengalaman pribadinya mengenai lika-liku seorang penulis skenario. Berikut ini adalah ceritanya.

Sebagai seorang penulis, gue biasanya harus begadang siang malem, kudu standby kapanpun dibutuhkan. Kira-kira kayak cowok panggilan gitu deh. Nah, proyek yang waktu itu kita garap berame-rame (sekitar bulan Juni yang lalu) kebetulan dinilai berpotensi tinggi. Pemain-pemainnya juga masuk kelas “A” dalam dunia sinetron. So, promosi pun lancar di mana-mana. Otomatis, tekanannya makin tinggi. Kita berusaha “raise the bar” dalam segala aspek. Apalagi, salah satu aktornya sempat komen, “Naskah terbagus yang pernah saya dapat.”

Tapi produser sinetron ini punya pendapat lain. Jam 11 malam Juni lalu, tim penulisnya dikumpulkan. Judulnya sih meeting. Tapi bohong. Cuh. Kita semua dibantai abis. Si produser bilang gini, “Kalian ini bikin sinetron! Bukan film!!” Semuanya bingung. Si produser kembali meracau, “Nggak perlu dialog-dialog yang ketinggian!! Pembantu mana ngerti! Yang saya butuhkan rating! Saya gak butuh dialog bagus! Gak perlu kata-kata bersayap! Gak perlu bahasa simbolis! Gak laku! Dialog yang kalian bikin saya gak ngerti! Ketinggian! Pokoknya saya minta ubah semua! Gak ada yang boleh pulang sebelum skrip baru jadi!”

Intinya sang produser marah karena kualitas skrip yang kita setor…. Terlalu bagus. Kita semua terbengong-bengong di ruang meeting. Salah satu nyeletuk, “Kenapa gak boleh kasih dialog bagus?” Jawabannya, “Soalnya yang nonton pembokat, pembantu, asisten RT, babu!! Dan emak-emak!! Mereka gak ngerti! Saya juga nggak!” Kesimpulan: intelejensi si bos produser setara sama…. Pembantu dong?

Mau debat kayak apapun, dia yang pegang kuasa. Terpaksa, banyak dialog yang harus kita rombak. Super duper bangkelah. Padahal kita mikirin dialog satu baris aja kadang sampe nungging. Demi kualitas. Apa?! Kualitas? Harusnya RATING begok! Jadilah malam itu tim penulis nungging sambil ngerevisi di kantornya produser, gak boleh pulang. Semuanya stress berat.

Cerita juga direvisi habis. Padahal waktu kita kasih sinopsis global, semuanya bilang ini ceritanya bagus. Intinya sih seorang ibu yang kena penyakit jiwa berat, dan memburu anaknya sendiri untuk dibunuh. Udah ada sinetron kayak gini? Nah. Bahkan untuk memerankan Ibu sinting nan psycho ini, satu artis udah dicasting khusus, dan dia sangat excited. Tapi saat cerita akan bergulir ke sana, semua cerita dirombak total. Perannya jadi ibu kaya yang mencari anaknya. Sounds familiar?

Dari satu sinetron ke sinetron lain, kita bisa menarik satu benang merah tentang tema. Anak ketukar, warisan, rebutan pacar, de-el-es-be. Kita selalu diminta membuat cerita yang beda, tapi, ujung-ujungnya akan dibelokkan ke arah yang dimaui produsernya. Terakhir, tokoh utama di sinteron yang kita garap adalah anak yang rebel dan nyebelin. Ujung-ujungnya? Tukang nangis lagi. Padahal kalo dipikirin, sebagai produsen seharusnya produser yang membentuk trend, bukan mengikuti trend. Iya, nggak?

Kenapa produser berkesimpulan yang kebanyakan nonton sinetron itu pembantu? Begini ceritanya. Barometer sinetron sukses bukan dari kualitas akting, cerita, pemeran atau sinematografi atau musik yang menakjubkan. Semua atas nama: rating. Contoh sederhana: pernah nonton Dunia Tanpa Koma? Bagus, kan? Dari segi kualitas, IYA. Segi komersil? Not in a million years. Akan muncul pertanyaan lain: sinetron dulu kok bagus-bagus? Well, dulu tayangnya mingguan, cuy! Sekarang kan every effin day. Go figure.

Sistem rating itu gimana, sih? Nah, rating yang jadi patokan, berasal dari AC Nielsen. Jadi mereka punya peralatan khusus, dan ada jumlah responden yang jadi barometernya juga. Setiap responden dikasih remote khusus. Setiap pencet remote, data terkirim, dan akan ketahuan sedang menonton program apa. Dari data yang masuk, pihak AC Nielsen langsung tau. Si A nonton chanel ini, B nontonnya ini. Data-data tersebut lalu dikompilasi. Dari data-data itu, masuklah yang namanya rating. Dan memang, dari data-data tersebut, penguasa sinetron memang dari kalangan C-D-E.

Apa itu kalangan C-D-E? Secara garis besar, pemirsa TV dibagi ke 5 kelompok. A dan B, adalah kalangan atas hingga menengah atas. C-D-E ya menengah ke bawah. Data dan fakta tersaji. Kami pun gak bisa bantah lagi. Tersaruk-saruklah kami menyayat skenario “kualitas film” sehingga berkualitas “sinetron”. Tak jarang, cerita yang sudah matang, atau sinopsis global harus diubah supaya dewa rating bekerja, dan ratingnya kembali naik. Sekarang pasti pada ngeh, kalo ada cerita yang tiba-tiba berubah, penyebabnya apa. Misal, tabrakan, amnesia dan mulai cerita baru.

Kita, sebagai penulis, pengin banget-banget bikin skrip sekelas Friends, atau Modern Family. Apa daya, uang produser yang berbicara. Lagi-lagi, hukum ekomoni yang berkuasa. Semakin tinggi rating, artinya semakin banyak yang nonton. Artinya iklan akan berhamburan. Makanya, jangan heran Cinta Fitri (CF) sampai ber-season-season. Bahkan season 7 akan diluncurkan segera. Rating CF itu gila, lho. Tinggi banget. Selama rating masih bagus, maka sinetron itu akan terus diproduksi. Tapi kebanyakan orang akan langsung mencaci maki penulisnya. Kalo kita bikin cerita yang keren gila dan gak laku, siapa yang dimarahi? PENULIS!

So, the reality: permintaan pasar yang tinggi akan sinetron, akan berakibat sinetron terus diproduksi. Gak peduli dicaci-dihina-dimaki. Karena yang nonton lebih banyak, yang suka JAUH lebih banyak daripada yang mengutuk. Hukum ekomonilah yang berkuasa. Produser yang menentukan. TAPI, gue percaya kok. Suatu hari nanti akan ada sinetron yang bener-bener mengutamakan kualitas, tanpa memandang profit yang didapat.

Nah, itu tadi kisah pengalaman Alexander Thian, seorang penulis skenario sinetron dan FTV. Kurasa sudah cukup jelas, kan, bagaimana sistem kerja industri sinetron ini? Oh, iya. Masih ada satu lagi, nih, tulisan berjudul Behind the S…inetron yang sedikit banyak mirip dengan cerita di atas. Begitulah, ujung-ujungnya duit. Money talks. Para produser pastilah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena itu, sinetron jenis apa yang “disukai”, itulah yang diproduksi. Peduli amat para pencemooh sinetron bilang apa. Masa bodoh dengan idealisme untuk membuat sinetron yang bermutu seperti serial televisi dari Jepang, Nodame Cantabile, misalnya. Padahal, menurut saya, sesungguhnya production house tidak kekurangan suatu hal apapun untuk menghasilkan sinetron yang bermutu. Namun, sayang mereka hanya memuja rating sinetron semata.

Saya, sih, berharap semoga ada salah satu produser yang terketuk pintu hatinya. Uang yang telah dinikmatinya selama ini bisa dikatakan berasal dari kantong pemirsa juga, kan? Maka dari itu, mbok bikinlah sebuah tontonan yang benar-benar bermutu dan menghibur pemirsa sebagai wujud bakti atau terima kasih kepada pemirsa setia. Saya yakin, kok, para pemirsa pastilah memilih tontonan yang jauh lebih baik dan menghibur apabila memang tontonan semacam itu nyata adanya.

Sebagai penutup, saya lampirkan sebuah komik strip tentang salah satu adegan di sinetron. Semoga lebih menghibur ketimbang nonton sinetron. Hi-hi-hi.

Komik Strip Sinetron | via @lifejoy

via @lifejoy

Nyanyian Cinta Corinne Bailey Rae

Awalnya adalah chatting dengan seorang teman, si penggemar musik-musik Jepang & jazz itu, sekitar dua tahunan lalu. Suatu kali dia cerita sedang nyetel lagu dari Corinne Bailey Rae, penyanyi yang nggak saya tahu. Siapa itu? Saat pertama kali mendownload lagunya, saya hanya berharap bukan musik sebangsa L’arc-en-Ciel :mrgreen:

Lalu saya pun jatuh hati.

Bukan kepada si teman, tapi kepada lagu-lagu Corinne Bailey Rae. :mrgreen: Suaranya merdu mendayu-dayu, musiknya yang ramah di telinga dan lirik yang indah dan sederhana. Setelah mendapatkan musik sealbum pertamanya, langsung saja lagu-lagunya nangkring di playlist. Biasanya jadi teman ketika saya sedang menulis.

Lagu-lagu dari albumnya yang berjudul “The Sea” inilah yang menemani saya dalam perjalanan panjang natal tahun lalu. Biasanya saya suka pada lagu-lagu tanpa merasa perlu cari tahu profil atau kisah pribadi penyanyinya. Namun lamanya perjalanan saat itu “memaksa” saya membaca cerita seputar album dan lagu-lagunya yang tersedia di Majalah yang ada di pesawat waktu itu. Album yang ini keluar setelah dia sempat vakum karena berduka pasca kematian suaminya, Jason Rae. Sebelum itu, Bailey Rae kehilangan kakeknya karena sebuah kecelakaan. Lalu keluarlah album The Sea, dengan lagu-lagunya yang berisi kesedihan, harapan, kehilangan dan cinta.

Dia juga pernah manggung di Indonesia waktu Java Jazz 2011. Sayang, jadwal yang tengah malam membuat saya urung menonton penampilannya. Kapan ya mau datang ke Indonesia lagi, hehe...

Kamis, 07 April 2011

Absurditas di Putri Yang Ditukar

Plesetan posternya

Kebanyakan sinetron adalah pembodohan? I second that.

Anda tentu tahu bahan-bahan utama untuk sinetron Indonesia, yaitu: kecantikan/ketampanan, percintaan yang mustahil, perebutan harta dan sakit/kecelakaan. Campurkan bahan-bahan utama tersebut dengan pertukaran bayi dan alur cerita yang maju mundur, maka didapat sinetron Putri yang Ditukar.

Selamat datang di dunia Putri yang Ditukar. Sebuah dunia di mana kota hanya selebar daun kelor. Tokoh-tokohnya selalu ketemu secara “kebetulan“ di cafe yang sama, sudut taman yang sama dan rumah sakit yang sama. Inilah dunia di mana setiap masalah diselesaikan dengan amarah dan mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu saja. Tokoh-tokohnya tidak pernah tampak bersekolah dan bekerja, mohon jangan bertanya mereka dapat uang dari mana. Saya juga nggak tahu.

Secara umum tidak banyak yang berbeda antara sinetron ini dengan sinetron lainnya. Satu hal yang istimewa adalah frekuensi dan durasi tayang yang luar biasa. Sejak beberapa bulan lalu, sinetron ini muncul di RCTI setiap hari selama 3-4 jam. Padahal ceritanya cuma pengulangan masalah yang itu-itu saja. Bila ada hal yang saya kagumi dari sinetron ini, itu adalah “kreativitas” penulis skenarionya memunculkan tokoh dan konflik baru demi mencegahnya selesai lebih cepat. :mrgreen:

Rasanya lucu kalau ada orang kaya (jadi bos perusahaan mestinya pinter dong ya?) yang dengan mudahnya percaya pada kata-kata musuhnya begitu saja. Di jaman Tes DNA sudah ada, kok ya masih menyandarkan kebenaran pada cap kaki bayi? Cetakan kaki lho, bok.. Setelah segitu seringnya dijahati oleh si ibu tiri, kok nggak terpikir untuk lapor polisi? Kadang tokohnya terlalu asyik bicara sendiri setelah dibohongi, sampai lupa ada HP yang bisa dipakai untuk konfirmasi.

Dengan sekian hal absurd yang tersaji, kenapa masih ada yang menonton sinetron ini? Belum tentu karena jalan ceritanya yang istimewa, atau akting pemainnya yang luar biasa. Ya karena memang tidak ada di sana. Setelah cerita yang ngalor ngidul ngulon ngetan, alur dan karakter yang di luar nalar, penonton penasaran bagaimana masalah mahapenting satu itu akan terjawab: membuktikan bahwa Amira dan Zahira MEMANG ditukar.

Melihat perkembangan yang terjadi, tampaknya Putri yang Ditukar belum akan selesai minggu ini. Sedangkan beberapa orang sudah prihatin dan kasihan pada para artis yang “terpaksa” syuting kejar tayang demi durasi 3 jam setiap hari. Tegakah anda melihat mereka mengulang adegan tangis dan ketakutan karena ancaman pembunuhan yang terus datang dari tokoh-tokoh barunya? Bila tidak, coba simak Gerakan Koin untuk Artis Putri yang Ditukar.

Tapi.. pilihan ‘kan ada di tangan kita, remote control pun bisa ditekan kapanpun juga. Kalau tak suka ya pindah saluran saja, why so serious?

Well, ini adalah pendapat pribadi saya. Sekarang sinetron Indonesia memang baru bisa segitu aja, tapi saya percaya potensi pekerja sinetron Indonesia belum keluar semuanya. Kita hanya perlu percaya dan tak berhenti mendukung mereka. Tonton karyanya dan kritik. Tonton karyanya dan jalan lupa untuk memuji. :)

go green Indonesia! Arya Spectra

Buat Lencana Anda

Web Page Counter
ecommerce shop designer