Sepertinya akhir-akhir ini sinetron Putri Yang Ditukar (PYD) sedang ramai diperbincangkan di ranah dunia maya. Bahkan beberapa blogger tersohor pun turut serta menyemarakkan suasana. Apa pasal? Memangnya sinetron ini begitu baguskah, hingga senantiasa santer diberitakan? Bagus atau nggaknya, itu relatif. Saya pribadi, sih, bakalan bilang sinetron ini nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Yah, kecuali wajah cantik Nikita Willy yang selalu menghiasi layar kaca mungkin bisa dianggap sebagai satu-satunya nilai plus dari sinetron ini. He-he-he.
Awal Mula Kejadian

Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar
Adalah sebuah fan page di Faceboook, bernama Gerakan Koin Untuk Artis Putri Yang Ditukar, yang ditengarai menjadi penyebab bergulirnya permasalahan tentang sinetron ini. Fan page yang bernada sarkastik ini mendeskripsikan diri sebagai gerakan koin untuk para artis pemain PYD supaya tidak harus berakting bodoh setiap hari dari jam 19:00 sampai 23:00. Iya, sinetron PYD memang tayang selama itu, dan setiap hari. Pada jadwal siaran RCTI, sih, disebutkan bahwa sinetron PYD tayang pada pukul 19:30 sampai 22:30. Tapi pada kenyataannya seringkali sinetron PYD selesai setelah lewat pukul 22:30, bahkan menjelang pukul 23:00. Bayangkan! Tiga jam lebih nonstop dicekoki sinetron! Beuh….
Ayolah, kita semua tahu kualitas sinetron saat ini. Cerita sinetron penuh dengan intrik asmara cinta segi njelimet, perebutan harta, tipu muslihat, dan percobaan pembunuhan yang tidak pantas disajikan dalam bentuk tontonan pada saat prime time. Bukan itu saja, masih banyak Absurditas di Putri Yang DItukar ini. Mulai dari lokasi yang itu-itu saja, kebetulan yang bertubi-tubi terjadi, hingga pola cerita yang diulang-ulang dan diulur-ulur membuat saya nggak bisa menemukan apa yang dapat dinikmati dari menonton sinetron PYD ini. Kecuali “menikmati” pesona Nikita Willy, tentu saja. Hi-hi-hi.
Sekarang bayangkan semua absurditas tersebut dikalikan tiga episode, untuk kemudian dirapel menjadi tontonan selama tiga jam lebih nonstop, dan tayang selama tujuh hari dalam seminggu. Wow! Makanya nggak heran kalau sampai ada semacam aksi sarkastik sepert gerakan koin itu. Mungkin sang penggagas gerakan juga merasa muak dengan overdosis tayangan PYD. Justru yang bikin saya heran adalah ada yang selalu setia menonton PYD setiap malam, termasuk orang rumah sendiri. Sayang sekali, sih. Tapi masa saya harus memaksa orang rumah untuk berhenti menonton PYD? Apa nantinya nggak dicap sebagai anak yang durhaka? Yah, apa boleh buat. Terkadang saya hanya bisa nyeletuk perihal keabsurdan PYD, dan sepertinya belakangan orang rumah juga setuju. Ya, Tuhan, semoga orang-orang di rumah mendapatkan pencerahan dan dijauhkan dari sinetron PYD. Amin.
Ada yang lebih menggelikan, yakni kelakuan para “pembela” PYD di fan page tersebut. Para pembela ini nggak segan-segan mengata-ngatai dengan kata-kata kasar, menyerang pribadi (shoot the messenger, not the message), bahkan mengaitkan dengan teori konspirasi, lho. Ha-ha-ha. Lha wong cuma sinetron aja kok ya dibelain sampai segitunya, sih? Heran aku. Ck-ck-ck.
Masa Suram
Setelah era sinetron Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan, sinetron seperti terjatuh ke dalam masa yang suram. Praktis mungkin hanya Bajaj Bajuri dan sitkom sejenis yang benar-benar menghibur. Lainnya? Banyak sinetron yang jelas-jelas menjiplak dari serial luar negeri tetapi tidak mencantumkan judul aslinya, seolah-olah itu hasil karya sendiri. Cuih! Makanya sampai ada yang memberikan julukan Setantron™. Kasus terbaru adalah sinetron Supergirl yang tayang di MNCTV. Karakter-karakter yang ada pada sinetron tersebut dituding menjiplak karakter dari komik atau cerita luar negeri, semisal Spider Woman, Robocop, Alice in Wonderland, maupun Pinokio.
Yang masih jadi pertanyaan hingga saat ini, entah mengapa peminat sinetron yang nggak bermutu justru banyak, sehingga sinetron semacam itu terus menerus diproduksi. Mungkin karena pemirsa nggak punya pilihan tontonan lain, ya? Kita lihat saja, selain kebanyakan stasiun TV menayangkan sinetron pada saat prime time, stasiun TV yang lain menayangkan berita. Padahal sebagian besar pemirsa itu menonton TV untuk mendapatkan hiburan, bukannya menonton berita melulu. Sayangnya hiburan yang tersaji hanyalah sinetron, dan—sialnya—dengan pola cerita yang kurang lebih sama nggak bermutunya antara satu sinetron dengan sinetron lainnya. Alhasil akhirnya pemirsa “dipaksa” menonton sinetron, deh.
Industri Sinetron
Eksistensi sinetron ditentukan oleh rating. Kalau ratingnya jeblok, sinetron bisa dengan begitu saja dihabisi. Ingat sinetron Dunia Tanpa Koma? Bahkan aktris sekaliber Dian Sastrowardoyo pun tidak kuasa mendongkrak rating sinetron yang konon katanya bermutu ini, sehingga lenyap tak berbekas setelah hanya tayang sebanyak 13 episode. Tragis, bukan? Bandingkan dengan PYD yang konon katanya menempati peringkat pertama dalam hal rating. PYD kini sudah menembus lebih dari 200 episode, lho.
Ada sebuah kisah menarik dari salah seorang penulis skenario sinetron dan FTV, Alexander Thian. Melalui akun Twitter-nya dia pernah menceritakan pengalaman pribadinya mengenai lika-liku seorang penulis skenario. Berikut ini adalah ceritanya.
Sebagai seorang penulis, gue biasanya harus begadang siang malem, kudu standby kapanpun dibutuhkan. Kira-kira kayak cowok panggilan gitu deh. Nah, proyek yang waktu itu kita garap berame-rame (sekitar bulan Juni yang lalu) kebetulan dinilai berpotensi tinggi. Pemain-pemainnya juga masuk kelas “A” dalam dunia sinetron. So, promosi pun lancar di mana-mana. Otomatis, tekanannya makin tinggi. Kita berusaha “raise the bar” dalam segala aspek. Apalagi, salah satu aktornya sempat komen, “Naskah terbagus yang pernah saya dapat.”
Tapi produser sinetron ini punya pendapat lain. Jam 11 malam Juni lalu, tim penulisnya dikumpulkan. Judulnya sih meeting. Tapi bohong. Cuh. Kita semua dibantai abis. Si produser bilang gini, “Kalian ini bikin sinetron! Bukan film!!” Semuanya bingung. Si produser kembali meracau, “Nggak perlu dialog-dialog yang ketinggian!! Pembantu mana ngerti! Yang saya butuhkan rating! Saya gak butuh dialog bagus! Gak perlu kata-kata bersayap! Gak perlu bahasa simbolis! Gak laku! Dialog yang kalian bikin saya gak ngerti! Ketinggian! Pokoknya saya minta ubah semua! Gak ada yang boleh pulang sebelum skrip baru jadi!”
Intinya sang produser marah karena kualitas skrip yang kita setor…. Terlalu bagus. Kita semua terbengong-bengong di ruang meeting. Salah satu nyeletuk, “Kenapa gak boleh kasih dialog bagus?” Jawabannya, “Soalnya yang nonton pembokat, pembantu, asisten RT, babu!! Dan emak-emak!! Mereka gak ngerti! Saya juga nggak!” Kesimpulan: intelejensi si bos produser setara sama…. Pembantu dong?
Mau debat kayak apapun, dia yang pegang kuasa. Terpaksa, banyak dialog yang harus kita rombak. Super duper bangkelah. Padahal kita mikirin dialog satu baris aja kadang sampe nungging. Demi kualitas. Apa?! Kualitas? Harusnya RATING begok! Jadilah malam itu tim penulis nungging sambil ngerevisi di kantornya produser, gak boleh pulang. Semuanya stress berat.
Cerita juga direvisi habis. Padahal waktu kita kasih sinopsis global, semuanya bilang ini ceritanya bagus. Intinya sih seorang ibu yang kena penyakit jiwa berat, dan memburu anaknya sendiri untuk dibunuh. Udah ada sinetron kayak gini? Nah. Bahkan untuk memerankan Ibu sinting nan psycho ini, satu artis udah dicasting khusus, dan dia sangat excited. Tapi saat cerita akan bergulir ke sana, semua cerita dirombak total. Perannya jadi ibu kaya yang mencari anaknya. Sounds familiar?
Dari satu sinetron ke sinetron lain, kita bisa menarik satu benang merah tentang tema. Anak ketukar, warisan, rebutan pacar, de-el-es-be. Kita selalu diminta membuat cerita yang beda, tapi, ujung-ujungnya akan dibelokkan ke arah yang dimaui produsernya. Terakhir, tokoh utama di sinteron yang kita garap adalah anak yang rebel dan nyebelin. Ujung-ujungnya? Tukang nangis lagi. Padahal kalo dipikirin, sebagai produsen seharusnya produser yang membentuk trend, bukan mengikuti trend. Iya, nggak?
Kenapa produser berkesimpulan yang kebanyakan nonton sinetron itu pembantu? Begini ceritanya. Barometer sinetron sukses bukan dari kualitas akting, cerita, pemeran atau sinematografi atau musik yang menakjubkan. Semua atas nama: rating. Contoh sederhana: pernah nonton Dunia Tanpa Koma? Bagus, kan? Dari segi kualitas, IYA. Segi komersil? Not in a million years. Akan muncul pertanyaan lain: sinetron dulu kok bagus-bagus? Well, dulu tayangnya mingguan, cuy! Sekarang kan every effin day. Go figure.
Sistem rating itu gimana, sih? Nah, rating yang jadi patokan, berasal dari AC Nielsen. Jadi mereka punya peralatan khusus, dan ada jumlah responden yang jadi barometernya juga. Setiap responden dikasih remote khusus. Setiap pencet remote, data terkirim, dan akan ketahuan sedang menonton program apa. Dari data yang masuk, pihak AC Nielsen langsung tau. Si A nonton chanel ini, B nontonnya ini. Data-data tersebut lalu dikompilasi. Dari data-data itu, masuklah yang namanya rating. Dan memang, dari data-data tersebut, penguasa sinetron memang dari kalangan C-D-E.
Apa itu kalangan C-D-E? Secara garis besar, pemirsa TV dibagi ke 5 kelompok. A dan B, adalah kalangan atas hingga menengah atas. C-D-E ya menengah ke bawah. Data dan fakta tersaji. Kami pun gak bisa bantah lagi. Tersaruk-saruklah kami menyayat skenario “kualitas film” sehingga berkualitas “sinetron”. Tak jarang, cerita yang sudah matang, atau sinopsis global harus diubah supaya dewa rating bekerja, dan ratingnya kembali naik. Sekarang pasti pada ngeh, kalo ada cerita yang tiba-tiba berubah, penyebabnya apa. Misal, tabrakan, amnesia dan mulai cerita baru.
Kita, sebagai penulis, pengin banget-banget bikin skrip sekelas Friends, atau Modern Family. Apa daya, uang produser yang berbicara. Lagi-lagi, hukum ekomoni yang berkuasa. Semakin tinggi rating, artinya semakin banyak yang nonton. Artinya iklan akan berhamburan. Makanya, jangan heran Cinta Fitri (CF) sampai ber-season-season. Bahkan season 7 akan diluncurkan segera. Rating CF itu gila, lho. Tinggi banget. Selama rating masih bagus, maka sinetron itu akan terus diproduksi. Tapi kebanyakan orang akan langsung mencaci maki penulisnya. Kalo kita bikin cerita yang keren gila dan gak laku, siapa yang dimarahi? PENULIS!
So, the reality: permintaan pasar yang tinggi akan sinetron, akan berakibat sinetron terus diproduksi. Gak peduli dicaci-dihina-dimaki. Karena yang nonton lebih banyak, yang suka JAUH lebih banyak daripada yang mengutuk. Hukum ekomonilah yang berkuasa. Produser yang menentukan. TAPI, gue percaya kok. Suatu hari nanti akan ada sinetron yang bener-bener mengutamakan kualitas, tanpa memandang profit yang didapat.
Nah, itu tadi kisah pengalaman Alexander Thian, seorang penulis skenario sinetron dan FTV. Kurasa sudah cukup jelas, kan, bagaimana sistem kerja industri sinetron ini? Oh, iya. Masih ada satu lagi, nih, tulisan berjudul Behind the S…inetron yang sedikit banyak mirip dengan cerita di atas. Begitulah, ujung-ujungnya duit. Money talks. Para produser pastilah mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Oleh karena itu, sinetron jenis apa yang “disukai”, itulah yang diproduksi. Peduli amat para pencemooh sinetron bilang apa. Masa bodoh dengan idealisme untuk membuat sinetron yang bermutu seperti serial televisi dari Jepang, Nodame Cantabile, misalnya. Padahal, menurut saya, sesungguhnya production house tidak kekurangan suatu hal apapun untuk menghasilkan sinetron yang bermutu. Namun, sayang mereka hanya memuja rating sinetron semata.
Saya, sih, berharap semoga ada salah satu produser yang terketuk pintu hatinya. Uang yang telah dinikmatinya selama ini bisa dikatakan berasal dari kantong pemirsa juga, kan? Maka dari itu, mbok bikinlah sebuah tontonan yang benar-benar bermutu dan menghibur pemirsa sebagai wujud bakti atau terima kasih kepada pemirsa setia. Saya yakin, kok, para pemirsa pastilah memilih tontonan yang jauh lebih baik dan menghibur apabila memang tontonan semacam itu nyata adanya.
Sebagai penutup, saya lampirkan sebuah komik strip tentang salah satu adegan di sinetron. Semoga lebih menghibur ketimbang nonton sinetron. Hi-hi-hi.

via @lifejoy